Kami menerima tulisan, artikel, laporan kegiatan dan saran-saran untuk dipublikasikan ke blog Pdt. Pahala J. Simanjuntak,MTh dengan mengirim e-mail ke: psh06simanjuntak@yahoo.com .
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

12 Juli 2009

Sabbat

Sabbat adalah perhentian, maksudnya menyediuakan waktu luang untuk bersama-sama dengan Tuhan. Dalam waktu sabbat banyak hal yang dilakukan, melestarikan lingkungan sekitar, bermurah hati dan menolong orang susah. Sabbat adalah ibadah bukan aturan. Sabbat adalah persembahan bukan pembrontakan. Tunaikanlah Sabbat!
Selamat hari Minggu.

Baca Selengkapnya.....

11 Juli 2009

Puasa

Sering orang beranggapan hal puasa itu hanya sekedar menahan diri dari makanan, minuman saja. Akan tetapi makna yang lebih jauh dari berpuasa itu adalah menyangkut totalitas kehidupan manusia. Bahkan merupakan ibadah yang sejati.

Dalam satu minggu ini apakah ada puasa yang anda lakukan? Kiranya puasa yang kita lakukan bermanfaat bagi kita dan kemuliaan bagi Tuhan

Baca Selengkapnya.....

25 Januari 2009

PINAHAN LOBU

Beternak Babi

Salah satu usaha yang dilakukan orang(kuhusnya Batak) sebagai upaya untuk menambah income keluarga adalah dengan MARPINAHAN LOBU. Demikian istilah yang biasa disebut menujuk sebuah pekerjaan beternak babi. Selama 6-12 bulan seekor babi dipelihara di kandang akan mencapai 100-125 Kg. Caranya gampang, hanya dengan mengumpulkan sisa-sisa makan setiap hari ditambah dengan ubi/gadong manginsir, jagung atau dengan sebutan kosentrat.


Lihat saja sebuah bukti di Seminarium Sipoholon. Seorang keluarga, sebut saja : Bapak Jaultop S (42) berhasil menjual seekor babinya seberat 125 Kg. Ketika ditanya umur babi ini kira-kira 12 bulan. Ketika toke babi datang menawar babi Pak Jaultop ini, langsung direspon. Bayangkan 125 Kg x Rp 14.000,- hitung sendiri.....Pak Jaultop langsung menerima uang kontan....lalu diberikan kepada isterinya disaksikan oleh anak-anaknya dan tetangga dekat.

Kebiasaan memelihara babi ini sejak lama dilakukan oleh penduduk kampung,hanya tidak semua yang berhasil. Sebenarnya Keberhasilan bagi beberapa orang tergantung pada kemauan mereka. Bak kata pepatah: Dimana ada kemauan disitu ada jalan. Mungkin cara Tuhan menolong umatnya dengan memelihara ternak babi seperti yang dilakukan kawan tadi. Tapi ingat! Tentu seorang peternak babi harus memperhatikan lingkungan sosial bukan>>>? Kebersihan, keindahan, sebab dampak buruk dari beternak babi juga ada....kotorannya jangan sembarangan dibuang. Pokoknya jangan bauhlan...

Selamat bagi pak Jaultop...

Baca Selengkapnya.....

24 Januari 2009

MANGUNGKAP HOMBUNG

MANGUNGKAP HOMBUNG

Demikianlah orang Batak dahulu menamakan sebuah tempat penyimpanan mas, perak, intan, berlian dan harta pusaka lainnya. Hombung sejenis guci yang terbuat dari tanah liat di simpan dalam satu tempat yang tersembunyi di dalam rumah. Orangtua yang sudah lanjut usia ketika dia meninggal dan kemudian dikuburkan, ada sebuah acara yang dilakukan di rumah padamalam harinya.Itulah yang disebut dengan mangungkap Hombung.


Membuka tempat penyimpanan harta benda orangtua yang sudah meninggal tadi. Sejak menurut orang Batak setiap orangtua pasti mememberikan miliki sejumlah harta atas kerja keras dan perjuangan selama hidupnya dan itu akan diberikan kepada keturunannya. Hula-hula dan orang tua serta kerabat dekat akan memulai pembicaraan untuk ungkap hombung ini.


Sayang guci yang diharapkan tidak ada lagi, sebagai gantinya adalah sebuah tas, melambangkan hombung/guci tadi. Maka pihak keluarga (hasuhuton) memberikan uang secara simbolis kepada semua orang yang ikut dalam acara ini. Tradisi seperti ini tetap dipertahankan oleh bangsa Batak yang cinta akan budaya.

Baca Selengkapnya.....

MARBINDA

MARBINDA

Sampai saat ini sebutan MARBINDA sering saya dengar bahkan turut saya ucapkan. Namun etimologi MARBINDA ini belum saya ketahui secara pasti. Mungkin saudara pembaca dapat menolong saya. Marbinda merupakan sebuah tradisi akhir tahun yang dilakukan oleh suku Batak khususnya di Bona Pasogit. Dengan memotong kerbau atau babi untuk dibagikan bersama-sama bagi yang ikut dalam kelompok MARBINDA ini.


Biasanya sejak awal tahun uang Binda sudah dikumpulkan kepada bendahara (penanggungjawab) agar pembayarannya tidak sulit. Tradisi ini sampai saat ini masih dipertahankan dan itulah merupakan salah satu pertanda sukacita mengakhiri tahun lama dan menyambut Tahun Baru. Pelaksanaan binda ini biasanya tanggal 30 atau 31 Desember. Ternyata sukacita Marbinda ini tidak terletak di banyaknya daging yang diperoleh, namun hikmahnya adalah kebersamaan, kekompakan dan satu perasaan di antara orang Batak.

Mungkin anda pernah lihat di warung (lapo) orang Batak terdapat sejumlah nama-nama yang terdaftar dalam anggota Binda ini, ada yang membayar Rp 30.000 perbulan, ada Rp 100.000 tergantung uang yang tersedia untukmembayar tiapbulan hingga pada akhir tahun terkumpul sejumlah uang yang akan dipakai membeli bahan BINDA. Tidak sampai Rp 500.000,- paling Rp 250.000-300.000,- Seruuuu....oh...

Baca Selengkapnya.....

SIJAGARON

Ruang Buadaya Batak: SIJAGARON

SIJAGARON adalah sebuah sebutan dalam tradisi Batak. Sebutan ini diperuntukan bagi seseorang yang meninggal dalam usia yang sudah lanjut serta mempunyai banyak keturunan. Orang Batak bilang "Saur matua" Marpahompu di anak,marpahompu di boru. Adapun isi sijagaron ini adalah adalah: sanggar, eme, hariara, napuran, tolor ni manuk, gambiri dan padi dimasukkan dalam ampang (lihat gambar).


Sambil manghunti Sijagaron ini salah seorang parumaen/pahompu dari yang meninggal tersebut membawa diatas kepala sambil berkeliling diikuti oleh seluruh keturunannya 3 atau 7 kali. Sambil berkeliling menari-nari " manortor" sebuah nyanyian dari BE HKBP " Martua dodohonon na marsaama i, na tong marparrohaon maniopdamei na tong marparohaon maniop dame i" Setelah 3 atau 7 kali mengelilingi mayat tersebut sijagaron dibawa ke dalam rumah sambil mengatakan horas..horas..horas.Kemudian dilanjutkan dengan acara huria.


Manghunti sijagaraon dianggap sebagai bahagian adat budaya Batak yang tidak mengandung "hasipelebeguon" atau okultisme. Hanya bagi sebahagian orang Batak masih menganggap Sijagaraon mengandung okultisme...? Bagaimana komentar anda?

Baca Selengkapnya.....

20 September 2008

Ringkas Kehidupan Nommensen Bagian 2

(Perjumpaan Nommensen dengan masyarakat Batak adalah perjumpaan Barat dan timur)

Tahun 1834, tanggal 6 Februari

Ingwer Ludwing Nommensen lahir di Nortdstrand, pulau kecil di panatai perbatasan Denmark dan Jerman. Dia anak pertama dan lelaki satu-satunya dari empat orang bersaudara. Ayahnya Peter dan ibunya Anna adalah keluarga yang sangat miskin di desanya. Sejak kecil, dia sudah tertarik dengan cerita gurunya Callisen tentang misionar yang berjuang untuk membebaskan keterbelakangan, perbudakan pada anak-anak miskin.

Tahun 1846 pada umur 12 tahun
kedua kakinya sakit parah karena kecelakaan kereta kuda pulang dari sekolah. Selama setahun lebih tidak dapat berjalan, kakinya hampir diamputasi. Dia berjanji kepada Tuhan bahwa akan menjadi misionar apabila kedua kakinya sembuh kembali. Dia akan pergi jauh untuk membebaskan anak-anak miskin yang budak karena hutang orang tuanya, dia akan memberitakan Firman Tuhan kepada pelbegu yang sangat terbelakang sebagaimana sering diceritakan gurunya Callisen yang sangat dikaguminya.
Tahun 1847
Kedua kakinya sembuh secara ajaib, dia dapat berjalan seperti sediakala. Dia kembali ke sekolah pada musin winter (musim dingin) karena pada musin summer dia akan menjadi gembala domba untuk menerima upahan karena orangtuanya sangat miskin.
Tahun 1848, tanggal 2 Mei
Ayahnya Peter Nommensen meninggal dunia. Ingwer Ludwing Nommensen sebelumnya bermimpi akan kehilangan ayahnya, maka ia tidak terkejut ketika orang membawa ayahnya ke rumah yang meninggal di tempat kerjanya.
Tahun 1849
Pada umur 15 tahun (suatu pengecualian), dia mendapat sidi. Biasanya, orang akan diijinkan mendapat sidi pada umur 17 tahun. Namun, karena Ingwer Ludwing Nommensen sudah tidak obahnya seperti ayah dari dari segi tanggung jawab kepada keluarga maka diberi pengecualian kepadanya. Dia mendapat sidi setelah setahun belajar Alkitab.
Tahun 1854
Ibu Ingwer Ludwing Nommensen merestui anaknya, satu-satunya lelaki diantara empat orang bersaudara, menjadi seorang misionar.
Tahun 1857
Ingwer Ludwing Nommensen masuk sekolah pendeta di RMG Barmen setelah menunggu sekian lama.
Tahun 1858, JanuariIbunya meninggal dunia di Nordstrand.
Tahun 1859
4 orang Misionar RMG Barmen serta 3 orang isteri misionar terbunuh di Borneo, berita itu semakin menggugah hati Ingwer Ludwing Nommensen untuk pergi ke daerah pelbegu.
Tahun 1861, 7 Oktober
berdiri HKBP (Huria Kristen Batak Protestan) di Praosorat Sipirok, sebagai permulaan Misi Kongsi Barmen di Tanah Batak. Hari itu terjadi kesepakatan 4 orang Misionar Belanda dan Jerman yaitu:
H (Heine)K (Klammer)B (Betz) danP (Van Asselt)
menjadi penginjil atas tanggung jawab Rheinische Missionsgeselshaft dari Barmen, Wupertal, Jerman, yang lazim diebut Kongsi Barmen.
Tahun 1861, Oktober
Ingwer Ludwing Nommensen ditahbiskan sebagai pendeta dan langsung diberangkatkan oleh Missi Barmen menjadi misionar ke Tanah Batak, tetapi selama 2 bulan dia masih belajar Bahasa Batak dan Budaya Batak dari Dr. Van Der Tuuk di Belanda.
Tahun 1861, Desember
Ingwer Ludwing Nommensen berangkat dari Amsterdam menuju Sumatera dengan kapal Pertinar. Pelayaran itu memakan waktu selama 142 hari.
Tahun 1862, 14 Mei
Setelah mengalami banyak cobaan di lautan, Ingwer Ludwing Nommensen mendarat di Padang . Selanjutnya dia tinggal di Barus. (Kapal Pertinar kemudian tenggelam dalam lanjutan pelayaran kea rah timur di sekitar Laut Banda dekat Irian Barat).
Tahun 1862, November
Bersama beberapa orang Batak, mengadakan perjalanan ke pedalaman Sumatera melalui Barus dan Tukka. Dari Barus, Ingwer Ludwing Nommensen pergi ke Prausorat dan kemudian tinggal dengan Van Asselt di Sarulla.
Tahun 1863, November
Ingwer Ludwing Nommensen pertama kali mengunjungi Lembah Silindung. Dia berdoa di Bukit Siatas Barita, di sekitar Salib Kasih yang sekarang. “Tuhan, hidup atau mati saya akan bersama bangsa ini untuk memberitakan FirmanMu dan KerajaanMu, Amin!”
Tahun 1864, Mei
Ingwer Ludwing Nommensen diijinkan memulai misinya ke Silindung, sebuah lembah yang indah dan banyak penduduknya.
Tahun 1864, Juli
Ingwer Ludwing Nommensen membangun rumahnya yang sangat sederhana di Saitnihuta setelah mengalami perjuangan yang sangat berat.
Tahun 1864, 30 Juli
Ingwer Ludwing Nommensen menjumpai Raja Panggalamei ke Pintubosi, Lobupining. Raja Panggalamei beserta rombongannya 80 orang membunuh Pendeta Hendry Lyman dan Samuel Munson (missionar yang diutus oleh Zending Gereja Baptis dari Amerika) di sisangkak, Lobupining pada tahun 1834, bertepatan dengan tahun lahirnya Ingwer Ludwing Nommensen di Eropa.
Tahun 1864 , 25 September
Ingwer Ludwing Nommensen mau dipersembahkan ke Sombaon Siatas Barita dionan Sitahuru. Ribuan orang datang. Ingwer Ludwing Nommensen akan dibunuh menjadi kurban persembahan. Ingwer Ludwing Nommensen tegar menghadapi tantangan, dia berdoa, angin puting beliung dan hujan deras membubarkan pesta besar tersebut. Ingwer Ludwing Nommensen selamat, sejak itu terbuka jalan akan Firman Tuhan di negeri yang sangat kejam dan buas. Ingwer Ludwing Nommensen pantas dijuluki “Apostel di Tanah Batak”
Tahun 1865, 27 Agustus
Pembaptisan pertama di Silindung terhadap empat pasang suami-istri beserta 5 orang anak-anaknya. Diantara keluarga yang dibaptis pertama adalah Si Jamalayu yang diberi nama Johannes dengan istrinya yang dibawa dari Sipirok sebagai pembantu Ingwer Ludwing Nommensen diberi nama Katharina.
Tahun 1866, 16 Maret
Ingwer Ludwing Nommensen diberkati menjadi suami-isteri dengan tunangannya Karoline di Sibolga. Karoline datang dari Jerman beserta rombongan Pdt. Johansen yang dikirim Kongsi Barmen untuk membantu Ingwer Ludwing Nommensen di Silindung.
Tahun 1871
Ingwer Ludwing Nommensen mengalami penyakit disentri yang sangat parah, dia pasrah untuk pergi menghadap Tuhannya tetapi dia tidak rela misinya berhenti begitu saja. Dia dibawa Johansen berobat ke Sidimpuan.
Tahun 1864
Karoline melahirkan anak pertama diberi nama Benoni, namun beberapa hari kemudian meninggal dunia.
Tahun 1872
Pargodungan Saitnihuta yang disebut Huta Dame pindah ke Pearaja. Setelah Gereja baru hampir selesai dibangun, putri pertama Ingwer Ludwing Nommensen yang bernama Anna meningal dunia. Keluarga Ingwer Ludwing Nommensen telah kehilangan dua anak pertama, sungguh suatu ujian berat bagi misionar dalam memulai misinya.
Tahun 1873
Sikola Mardalan-dalan (Sekolah dengan tempat tidak tetap) diciptakan Ingwer Ludwing Nommensen agar Orang Batak bisa secepatnya menjadi guru. Siswa mendatangi Ingwer Ludwing Nommensen di Pearaja, Johansen di Pansurnapitu dan Mohri di Sipoholon dimana para misionar tersebut bertugas. Atau, misionar mendatangi siswanya ditempat tertentu.
Tahun 1875
Misionar Ingwer Ludwing Nommensen, bersama Johansen dan Simoneit bekunjung ke Toba.
Tahun 1876Telah dibaptis lebih dari 7000 orang di Silindung.
Tahun 1876
Ingwer Ludwing Nommensen selesai menterjemahkan Perjanjian Baru ke dalam Bahasa Batak Toba.
Tahun 1877
Ingwer Ludwing Nommensen dan Johansen mendirikan Sekolah Guru Zending di Pansurnapitu. Tempat berdirinya sekolah tersebut adalah tempat yang dulunya dikenal sebagai Pasombaonan (tempat angker), yang sekarang tempat berdirinya STM Pansurnapitu dan Gereja HKBP Pansurnapitu.
Tahun 1877
Raja Sisingamangaraja ke-XII mengancam akan membumihanguskan kegiatan missioner, ancaman ini tidak menjadi kenyataan.
Tahun 1878Silindung masuk kolonisasi Belanda.
Tahun 1880
Ingwer Ludwing Nommensen beserta istri dan anak-anaknya pergi ke Eropah. Mereka diantar oleh banyak orang smpai ke tengah hutan. Mereka berjalan kaki selama dua hari dari Silindung ke Sibolga, menjalani jalan setapak yang sangat sulit. Mereka menungu keberangkatan dari Sibolga ke Padang selama dua minggu.
Tahun 1881
Menjelang Natal, Ingwer Ludwing Nommensen kembali ke Pearaja. Dia kembali sendirian, isterinya tinggal di Jerman karena masih perlu perawatan. Anak-anaknya juga tinggal di sana agar bisa sekolah dengan baik.
Tahun 1881
Kongsi Barmen menetapkan Ingwer Ludwing Nommensen menjadi Ephorus pertama HKBP, dia digelari ‘Ompu i’
Tahun 1887
Karoline isteri Ingwer Ludwing Nommensen, meninggal di Jerman, sebulan kemudian baru Ingwer Ludwing Nommensen mengetahuinya.
Tahun 1890
Ingwer Ludwing Nommensen memulai misinya ke Toba, dia pindah ke Sigumpar.
Tahun 1891 bulan Mei

Christian, anak ompu Ingwer Ludwing Nommensen, mati terbunuh di Pinang Sori oleh lima orang kuli China di areal perkebunan.

Tahun 1892

Bersama Pendeta Johansen yang juga sudah menduda pergi ke Jerman untuk berlibur, menjenguk anak-anaknya, dan mencari pasangan baru untuk masing-masing misionar yang telah menduda. Ingwer Ludwing Nommensen mendapatkan jodohnya anak Tuan Harder yang bernama Christine, Johansen mendapatkan jodohnya anak Tuan Heinrich yang bernama Dora. Mereka kembali ke Tanah Batak dengan masing-masing pasangan barunya.
Tahun 1900Permulaan Zending Batak.
Tahun 1903Permulaan misi Zending ke Medan

Tahun 1904

Fakultas Theologi Universitas Bonn , Jerman, menganugerahkan gelar Doktor Honouris-Causa di bidang Theologi kepada Ingwer Ludwing Nommensen. Dalam pengukuhan tersebut, Ratu Wilhelmina dari Belanda ikut diundang sebagai tamu.

Tahun 1905

Berkunjung ke Eropah bersama Tuan Reitze, dia mengunjungi Misi Zending di Belanda dan berkunjung kepada Ratu Wilhelmina.

Tahun 1909

Christine Harder, isteri Ingwer Ludwing Nomensen meninggal dunia, setelah melahirkan tiga orang anak. Dia dimakamkan di Sigumpar. Dua anak perempuannya tinggal di Jerman dan belum menikah sewaktu Ompu Ingwer Ludwing Nommensen meningal pada umur 84 Tahun.

Tahun 1911

Pesta jubileum 50 tahun HKBP. Pesta besar di onan Sitahuru dihadiri puluhan ribu orang, di tempat dimana 47 tahun sebelumnya Ingwer Ludwing Nommensen mau dibunuh dan dipersembahkan kepada Sombaon Siatas Barita.

Tahun 1911

Ratu Wilhelmina dari belanda menganugerahkan Bintang Jasa ‘Order Of Orange Nassau’ kepada DR. Ingwer Ludwing Nommensen, sebuah bintang jasa yang hanya diberikan kepada orang yang dianggap luar biasa jasanya di bidang kemanusiaan.

Tahun 1912

Berlibur ke Eropah, kembali ke Tanah Batak bersama tuan Pilgram yang telah lama bertugas di Balige.
Tahun 1916Nathanael anak Ingwer Ludwing Nommensen, mati tertembak di arena Perang Dunia I di Perancis.

Tahun 1918, Tanggal 23 Mei

Pukul enam pagi Hari Kamis, Ompu Ingwer Ludwing Nommensen pergi menghadap Tuhannya di Sorga. Dia menutup mata untuk selama-lamanya setelah berdoa ‘Tuhan kedalam tanganMu kuserahkan rohku, Amin’.

Pada Jumat sore, 24 Mei 1918

Ompu Ingwer Ludwing Nommensen dikubur di Sigumpar. Puluhan ribu datang melayatnya untuk mengucapkan salam perpisahan. Ada orang berkata : Inilah kumpulan manusia yang paling banyak yang pernah terjadi di Tanah Batak.
Ringkasan ini diambil dari buku:DR. I.L. Nommensen – Apostel di Tanah Batak oleh Patar M. Pasaribu

Created by : ppksi TEAM

Baca Selengkapnya.....

Profile Dr. I. L. Nommensen (Bagian 1)

DR. INGWER LUDWIG NOMMENSEN dilahirkan di pulau Nordstrand antara Denmark dan Jerman pada tanggal 6 Februari 1834. Dia berikrar untuk menjadi misionaris ketika dia sakit keras, dan memang inilah yang merupakan satu-satunya tujuan hidupnya. Setelah dididik oleh Rheinische Mission Gesselschaft (RMG), dan ditahbiskan pada bulan Oktober 1861, beliau berangkat ke Sumatera. Ia tiba di Padang pada tanggal 14 mei 1862. Rencananya adalah bekerja di kalangan orang Batak. Kesulitan yang dihadapai pada awalnya yaitu adanya larangan untuk bekerja di daerah pedalaman dan adanya komitmen sesama misionaris untuk memusatkan perhatian pada daerah Tapanuli Selatan. Setelah berusaha keras, Nommensen diizinkan bekerja di daerah barus, dan mulailah beliau melayani beberapa orang batak dan belajar bahasa mereka.

Nommensen melakukan perjalanannya ke daerah pedalaman pada tanggal 25 oktober 1862. Perjalanan tersebut dianggap sangat berhasil. Lalu beliau pindah ke Sipirok dan disana bertugas untuk mendirikan sebuah sekolah. Pada bulan Nopember 1863, dia mengunjungi daerah Silindung. Disini dia menghadapi masalah sifat permusuhan dari raja-raja didaerah tersebut. Namun dia sudah bertekad untuk dapat tinggal disana, mengenal sifat orang batak dan melayani mereka. Keteguhan hatinya untuk hidup sederhana yang bersifat penyangkalan diri, ketekunan dan kepandaiannya dibidang pengobatan menyebabkan dia dapat tinggal dengan orang Batak dan melayani mereka, jasmani maupun rohani. Rencananya adalah untuk hidup jauh dari kehidupan perekonomian setempat dan akhirnya mendirikan suatu koloni Kristen yang dapat memenuhi kebutuhan sendiri.

Orang - orang yang pertama, empat lelaki, empat wanita dan lima anak-anak, dibaptis oleh Nommensen pada tangal 27 Agustus 1865. Dia juga mendirikan Huta Dame (Kampung Pardamean) dengan sebuah gereja sederhana, sekolah dan beberapa rumah lain. Tantangan demi tantangan yang datang dari masyarakat, raja-raja dan bahkan dari lembaga zending di Barmen dihadapi Nommensen dengan tabah dalam merealisasi cita-citanya.

Dalam sepucuk surat yang dikirimkannya ke Barmen, dia berbicara tentang suatu penglihatan yang dia perolah tentang hari depan masyarakat yang dilayani ini :
"Dalam roh saya melihat dimana-mana jemaat-jemaat Kristen, sekolah-sekolah dan gereja-gereja kelompok orang Batak tua dan muda yang berjalan ke gereja-gereja ini. Di setiap penjuru saya mendengar bunyi lonceng gereja yang memanggil orang-orang beriman datang ke rumah Alah. Saya melihat dimana-mana sawah-sawah dan kebun-kebun yang telah diusahakan, padang-padang penggembalaan dan hutan-hutan yang hijau, kampung-kampung dan kediaman-kediaman yang teratur disalamnya terdapat keturunan-keturunan yang berpakaian pantas. Selanjutnya, saya melihat pendeta-pendeta dan guru-guru orang pribumi Sumatera berdiri di panggung-panggung dan di atas mimbar-mimbar, menunjukkan cara hidup Kristen kepada yang muda maupun yang tua. Anda mengatakan bahwa saya seorang pemimpi, tetapi saya berkata : tidak, saya tidak. Saya tidak bermimpi. Iman saya melihat ini semua; hal ini akan terjadi, karena seluruh kerajaan akan menjadi milikNya dan setiap lidah akan mengetahuibahwa Kristus adalah Tuhan bagi kemuliaan Allah Bapa. Karena itu, saya merasa gembira, walaupun rakyat mungkin menentang firman Allah, yang mereka lakukan tepat seperti mudahnya mereka mencegah firman Allah dari hati mereka. Suatu aliran berkat pastilah akan mengalir atas mereka. Hari sudah mulai terbit. Segera cahaya terang akan menembus, kemudian Matahari Kebenaran dalam segala kemulianNya akan bersinar atas seluruh tepi-langit tanah Batak dari Selatan bahkan sampai ke pantai-pantai Laut Toba"

Menurut berbagai sumber, penglihatan tersebut diperolehnya ketika beliau berdoa di Siatas Barita, Tarutung, tempat Salib Kasih sekarang.
Ketika Nommensen meninggal pada tanggal 23 Mei 1918, gereja telah bertumbuh dan mencakup kurang lebih 180.000 orang anggota yang dibaptis, sekolah-sekolah yang berjumlah 510 buah itu mempunyai 32.700 orang murid yang terdaftar dan gereja yang dipimpin oleh 34 orang Batak yang ditahbiskan , 788 orang guru Injil dan 2.200 orang penetua.

dikutip dari :
(Pedersen, P.B 1979 Daerah Batak dan jiwa Protestan)

Baca Selengkapnya.....

18 September 2008

Pelantikan Pimpinan HKBP 2008-2012

Sinode Godang HKBP ke-59 di Seminarium Sipoholon telah berakhir, Sabtu (6/9) kemarin. Sinode yang belangsung aman dan lancar berhasil. memilih Ephorus, Sekjen, Kepala Departemen dan 26 Praeses untuk periode 2008-2012, Hari ini, Minggu (7/9) seluruh Pucuk Pimpinan HKBP tersebut dan 26 Praeses akan dilantik di Gereja HKBP Pearaja Tarutung. Sebagai Ephorus Pdt Dr Bonar Napitupulu, Sekjen Pdt Ramlan Hutahaean MTh, Kepala Departemen Koinonia Pdt Dr Jamilin Sirait, Kepala Departemen Marturia Pdt Dr Binsar Nainggolan dan Kepala Departemen Diakonia Pdt Nelson Siregar. Sedangkan 26 Praeses yang pemilihannya dilakukan, Sabtu (6/9), hingga tengah malam masih berlangsung penghitungan suara. Ada 52 orang calon Praeses yang diajukan Ephorus terpilih untuk dipilih, namun yang dipilih hanya 26 orang, di antara calon itu ada tiga orang calon pendeta perempuan.

Hasil pantauan SIB, selama berlangsung penghitungan suara untuk pemilihan Praeses, tampak masing–masing calon tidak sabar menunggu hasilnya dan mereka berulang kali beranjak dari tempat duduk melihat lebih dekat ke papan penghitungan. Sehingga berulangkali panitia mengumumkan untuk sabar. Walaupun pemilihan telah selesai dilakukan jam 15.30 WIB, namun hingga pukul 19.00 WIB penghitungan masih berlangsung dan diperkirakan akan sampai tengah malam. Seluruh calon masih tetap bertahan di tempat duduknya, namun para peserta sudah banyak yang meninggalkan ruangan dan bahkan sudah banyak yang pulang kampung karena agenda Sinode Godang telah selesai.

Sejak hari pertama hingga hari terakhir Sinode Godang di Seminarium Sipoholon, makanan peserta dihidangkan makanan “namarmiak-miak.” Hal tersebut juga diakui salah seorang Seksi Akomodasi Pdt Kardi Simanjuntak STh. “Kita berusaha memberikan pelayanan yang terbaik bagi seluruh peserta sinode ini. Dan dengan makanan “namarmiak-miak” alias B2 ini kita harapkan hasil sinode pun “marmiak-miak” sehingga menjadi garam dan terang dunia,” jelas Simanjuntak. Hal yang sama diakui salah seorang peserta sinode Pdt J Simangunsung dan melihat pelaksanaan Sinode Godang ke-59 itu sangat baik Bukan hanya makanannya yang enak, tetapi juga suasana di sinode berlangsung damai penuh suka cita. “Puji Tuhan sinode kita berlangsung dalam damai,” ucapnya.

Acara kebaktian pelantikan dirangkai dalam satu ibadah parmingguon di HKBP Pearaja Tarutung, demikian penjelasan Pdt. Pahala J. Simanjuntak, MTh seksi ibadah kepada SIB.

Sumber : Harian SIB

Baca Selengkapnya.....

08 Mei 2008

Berlari Kepada Tujuan

Kalau orang sudah memasuki umur seperti saya, artinya orang sudah memasuki tahap-tahap akhir dari hidupnya. Saya membayangkan bahwa tidak ada yang membahagiakan daripada dapat melihat tahun-tahun hidup yang telah berlalu dan dapat dengan tersenyum berkata kepada diri sendiri, "Ah, alangkah banyaknya yang telah kulakukan! Alangkah banyaknya yang telah saya hasilkan dan kerjakan.

Sekarang saya dapat hidup lebih santai, dapat pensiun, istirahat alangkah nikmatnya!" Terus terang saja jalan pikiran saya sering demikian. Sekarang ini saya bekerja sekeras-kerasnya sampai istri saya sering khawatir, kalau saya terlalu bekerja keras. Tetapi saya selalu berkata, "ini adalah tahun-tahun terakhir di mana saya masih harus bekerja sekeras-kerasnya. Tidak lama lagi akan datang waktunya saya pensiun, istirahat dan dengan santai melakukan apa yang saya kerjakan."

Tetapi ketika saya membaca Filipi 3:12-16, rasul Paulus dengan tegas mengatakan, "Eka, engkau salah besar." Dan saya kaget, saya terperangah dan bertanya, "saya salah apa? Apakah karena saya bekerja terlalu keras, karena saya menerima tanggungjawab terlalu banyak?" Kata rasul Paulus, "Oh, tidak! Yang salah ialah kamu berpikir bahwa tidak lama lagi kamu bisa santai dan beristirahat. Hidup orang percaya, hai anakku, tidak mengenal istirahat, tapi harus terus berlari-lari kepada tujuan sampai akhir dan tidak mengenal pensiun."

Di antara surat-surat Paulus, surat Filipi adalah surat yang paling saya gemari dan paling mempunyai arti yang sentimental. Sebab surat ini ditulis rasul Paulus dari dalam penjara dan ketika dia sudah sangat mendekati ajalnya. Hal ini tidak mengherankan! Kalau kita menerima surat dari seseorang yang ditulis beberapa lama sebelum ia meninggal dunia, pesan-pesannya terasa lebih mujarab, kata-katanya lebih berkhasiat.

Coba kita bayangkan: apakah orang seperti Paulus yang sudah banyak menderita dan sebentar lagi akan dihukum mati, tetapi toh ia masih mengirimkan pesan dalam suratnya, "Bersukacitalah senantiasa di dalam Tuhan, sekali lagi kukatakan bersukacitalah, dan janganlah kamu khawatir tentang apa pun juga. Damai sejahtera Allah yang melampui segala akal akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus." (Flp. 4:4-7)

Kalau pesan itu dikirim oleh seorang yang hidup sehat, makmur dan senang, rasanya pesan itu biasa-biasa saja. Tetapi sungguh sangat mengharukan kalau pesan itu dikirim oleh orang yang kita tahu hampir mati di dalam penjara. Dia mengatakan, "Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini atau aku telah sempurna melainkan aku mengejarnya kalau-kalau aku juga dapat menangkapnya." Paulus mengejar dan menangkap apa yang menjadi tujuan akhir dari perjalanan hidup seorang Kristen sehingga ia dapat mengatakan, "akhirnya aku sampai ke tujuan, sekarang aku dapat santai, istirahat, oleh karena mahkota kehidupan itu sudah di tangan."

Kalau kita berpikir siapa yang lebih pantas dari Paulus untuk mengatakan hal seperti itu? Paulus telah bekerja begitu keras untuk Tuhan, telah menghasilkan banyak untuk Tuhan, telah mengorbankan dan memberikan begitu banyak untuk Tuhan, dia sudah mengorbankan segala yang ada pada dirinya untuk Tuhan. Apa yang masih kurang dan apa yang masih dituntut dari Paulus? Bahkan sampai pada akhir hidupnya Paulus tetap mengatakan "Tidak, aku belum tiba tujuan." Oleh karena itu tidak ada waktu untuk bertenang-tenang. Sebelum hidup ini berakhir, sebenarnya tidak ada waktu untuk berhenti bagi seorang Kristen.

Paulus berkata, "Aku telah melupakan apa yang di belakang dan mengarahkan diri kepada apa yang dihadapanku." Artinya bahwa seluruh hidup orang percaya sebenarnya adalah perjuangan, perlombaan, terus berjalan dan berlari, tidak merasa puas menjadi seorang Kristen. Tetapi orang Kristen harus mengakui, "Tuhan, saya mau menjadi lebih Kristen lagi!" Untuk itu arahkan hidup hanya ke depan seperti Paulus.

Saya sering mendengar kata orang, "Tuhan, kurang apa lagi saya ini? Berapa puluh tahun saya telah bekerja untuk-Mu? Cukup itu, sekarang saya mau istirahat." Tuhan berkata, "Tidak! Berapa banyak dan berapa lama engkau bekerja bagi-Ku, anak-Ku, itu semua sudah ada di belakang. Lupakanlah apa yang telah di belakang dan arahkan dirimu kepada yang di hadapanmu." Ada yang mengatakan "Tuhan, sudahlah , saya berhenti di sini saja. Saya sudah tidak kuat lagi, hidup saya terlalu berat, pengalaman saya terlalu pahit." Tetapi Tuhan berkata, "Tidak, anak-Ku. Betapa gelapnya pun jalan-jalanmu selama ini, betapa pun beratnya beban yang harus kau tanggung di dalam hidupmu, itu juga sudah ada di belakangmu dan lupakanlah apa yang di belakang dan arahkanlah diri pada kesempatan dan kemungkinan yang masih dibukakan oleh Tuhan di depanmu."

Tetapi bagaimana kita harus berlari? Dalam Ibr. 12:1,2 dikatakan, "Marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita. Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus...." Ada tiga hal yang dikatakan di sini.

Pertama, Kita perlu berlari dengan benar, berlomba dengan tekun, serius, gigih, ulet, semangat yang tinggi dan dengan tekad yang bulat. Kalau kita jujur justru di sinilah letak kelemahan dan kekurangan kita. Dalam banyak hal kita amat serius dengan pekerjaan dan karier kita, dengan keluarga, tetapi apakah kita amat serius dengan iman dan dengan Tuhan kita? Kita dengan tekun melakukan tugas-tugas kita di kantor dan di rumah, tetapi apakah kita sama tekunnya dalam melakukan tugas-tugas di gereja?

Kedua, tanggalkan dan tinggalkan semua beban dan dosa. Ini sangat penting. Orang tidak akan berlari dengan cepat kalau ia masih harus memikul dan membawa terlalu banyak beban persoalan, kekhawatiran dan beban dosa. Memang tidak ada hidup yang tanpa persoalan, tanpa kekhawatiran dan kecemasan, bahkan tanpa dosa. Yesus tidak melarang orang khawatir. Tetapi Yesus mengatakan, "Jangan hidup di dalam kekhawatiran." (Mat. 6:34) Kita boleh khawatir, tetapi jangan khawatir tentang hari kemarin sebab itu sudah di belakang kita. Jangan khawatir tentang hari esok sebab hari esok mempunyai kekhawatirannya sendiri. Karena itu kalau ada persoalan, ya selesaikan dengan segera dan dengan tuntas hari ini juga. Kalau ada dosa dan kesalahan yang harus diperbaiki, perbaikilah dengan segera dan dengan tuntas hari ini. Jangan ditunda-tunda, karena itu hanya akan menumpuk beban yang membuat kita sulit berlari.

Ketiga, berlari dengan mata tertuju kepada Yesus. Tidak seperti istri Lot, yang kakinya memang menuju ke depan, tetapi kepala dan hatinya terarah ke belakang. Akhirnya ia memang tidak terbakar api tetapi ia tidak pernah sampai ke tujuan. Ini adalah orang-orang Kristen yang mendua hati. Mereka mau mengikuti Kristus, tetapi meninggalkan hidup, sifat dan keinginan yang lama, masih sayang. Tuhan berkata, "Tidak bisa seorang itu mengabdi kepada dua tuan." Karena itu mau pilih Tuhan atau pilih mamon?! Tidak bisa mau pilih Tuhan, tetapi dukun juga. Kalau kita mau menang dalam perlombaan iman, maka kita harus membiarkan Tuhan menguasai hidup kita seratus persen. Jangan cuma kepala, tetapi juga hati. Jangan cuma hati tetapi juga tangan dan kaki. Jangan cuma dompet, tetapi juga waktu dan tenaga.

Rasul Paulus berkata, "Kristus telah mati untuk semua orang supaya mereka yang hidup tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka." Amin! (Bahana)


Baca Selengkapnya.....