Kami menerima tulisan, artikel, laporan kegiatan dan saran-saran untuk dipublikasikan ke blog Pdt. Pahala J. Simanjuntak,MTh dengan mengirim e-mail ke: psh06simanjuntak@yahoo.com .
Tampilkan postingan dengan label PA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PA. Tampilkan semua postingan

22 Februari 2009

PA

Hidup dengan Hikmat Allah.
(Yakobus 3:13-18)

Siapakah Yakobus?

Yakobus adalah anak Zebedeus dan saudara Yohanes. Ia adalah seorang nelayan yang dipanggil oleh Yesus agar mengikuti Dia dan menjadi seorang murid/rasul (Mat. 4:17-22). Yakobus dan saudaranya Yohanes diberi nama Boanerge yang artinya ”anak-anak guruh” (Mark. 3:17). Yakobus adalah murid pertama yang menyerahkan hidupnya bagi Yesus Kristus dan Ia dibunuh oleh Herodes pada tahun 44 (Kis. 12:1-2). Yakobus menjadi pemimpin jemaat di Yerusalem. Dalam Gal. 2:9 Paulus menyebutkan dia adalah ”Sokoguru”. Yakobuslah yang memimpin sidang yang diadakan oleh para rasul dan penatua di Yerusalem seperti yang dilukiskan dalam Kisah para Rasul 15. Setelah Petrus dilepas dari penjara, ia mengirim pesan khusus kepada Yakobus (Kis. 12:17), dan ketika Paulus mengunjungi Yerusalem, ia memberi salam kepada Yakobus dan menyampaikan ”Persembahan kasih” yang khusus dari orang-orang bukan Yahudi (Kis. 21:18-19).

Yakobus pernah meminta Paulus untuk memenangkan orang-orang Kristen di Yerusalem yang masih berpegang teguh pada hukum Taurat. Selanjutnya Yakobus dikenal sebagai seorang yang memberi kesempatan kepada semua golongan untuk mengemukakan pendapatnya lalu memperdamaikan mereka dengan menarik kesimpulan berdasarkan Firman Allah. Yakobus adalah orang yang sangat tekun berdoa. Jadi tidak mengherankan kalau di dalam suratnya ia sangat menekankan pentingnya doa bagi pengikut Yesus Juru Selamat kita. Dikatakan pula bahwa ia begitu banyak berdoa sehingga lututnya menjadi sekeras lutu unta.

Keterangan Nas
Saudara-saudaraku yang kekasih di dalam nama Tuhan Yesus Kristus. Hikmat yang berasal dari atas yaitu hikmat dari Allah, bekerja dengan suatu cara yang berbeda dari hikmat yang dari dunia, dari nafsu manusia dan dari setan-setan. Setiap insan pasti menginginkan hikmat. Tetapi pertama-atama kita harus memahami dengan benar apakah arti dan makna hikmat yang disebut dalam nas ini. Salah satu hal yang perlu dibuang adalah iri hati, kebencian, kesombongan. Iri hati muncul ketika kita melihat seseorang yang berambisi dan bersemangat untuk menduduki suatu jabatan di pemerintahan atau di gereja lebih tinggi dari kita. Memang ada di antara anggota jemaat yang ingin mendapatkan kedudukan yang tinggi dengan mementingkan diri sendiri dan menuruti hawa nafsu. Para rasul yang pertamapun mempertengkarkan siapa yang terbesar dalam Kerajaan Sorga.

Dalam 1 Kor 1:29 mengatakan supaya jangan ada seorangpun manusia yang memegahkan diri di hadapan Allah. Memegahkan diri adalah sebuah sifat keangkuhan dan kesombongan pada dirinya sendiri dimana ia dapat dipuji-puji dan diangkat-angkat dalam perkataan yang melibatkan dirinya untk berdusta di hadapan saudaranya ataupun kerabat terlebih di hadapan Tuhan. Inilah hikmat dunia yang salah itu. Seseorang bebas melakukan apa yang dia kehendaki,pada hal sudah bertentangan dengan kehendak Tuhan. Itulah sebabnya dunia kita semakin hancur, sembraut, penuh tipu daya dan dusta. Bukan hikmat yang seperti itu yang dinasehatkan dalam Firman Tuhan melainkan Hikmat rohani yang benar dari Allah misalnya kelemahlembutan. Orang yang lemah lembut tidak memaksakan kehendaknya sendiri. Orang yang lemah lembut hanya mencari kemuliaan Allah dan tidak melayani pujian manusia. Kelemahlembutan ialah salah satu buah Roh (Gal 5:23) dan tidak dapat dihasilkan oleh manusia. Ungkapan Hikmat yang lahir dari kelemahlembutan (Yak 3:13),berarti kedua kata ini untuk orang yang sungguh-sungguh bijaksana akan menunjukkan sikap dan perbuatan dalam kehidupannya sehari-hari bahwa ia betul seorang Anak Allah. Hikmat Allah membahkan kemurnian (3:17).

Ini menunjukkan pentingnya kesucian sebab Allah itu suci. Orang yang suci akan selalu dekat kepada Tuhan. Sebaliknya orang yang dekat kepada Tuhan selalu mengutamakan kesucian. Yakobus menggunakan kata ini dalam pasal 4:8 ”Mendekatlah kepada Allah, dan Ia kan mendekat kepadamu. Tahirkanlah tanganmu, hai kamu orang-orang berdosa. Dan sucikanlah hatimu, hai kamu yang mendua hati. Hikmat Allah membawa kepada kehidupan yang suci, pendamai, peramah, penurut, penuh belaskasihan. Ia tidak memperoleh apa-apa dari perbuatannya itu, kecuali berkat karena melakukan kehendak Allah. Kita melihat perumpamaan Tuhan Yesus tentang orang Samaria yang baik hati yang merawat seorang asing bangsa Yahudi (Luk 10:25-37). Dengan perbuatan ini dia menghasilkan buah yang baik dan tidak munafik terhadap sesama manusia. Ia berpegang teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih (Ef 4:15). Inilah Anugerah Allah yang memampukan seseorang untuk semakin merendahkan diri mengutamakan kepentingan Allah, mengutamakan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi. Harus hidup solider, mau berkorban. Yang pasti, orang yang dipenuhi dan digerakkan hikmat yang dari Allah, dimanapun dia berada, bertempat tinggal, bekerja, pasti akan mendatangkan sukacita, damai, kehangatan, keharmomisan bagi sesama manusia. Tanpa memandang suku, ras agama dan lan-lain. Kehidupan Kristen ialah kehidupan yang menabur dan menuai, dan kita menuai apa yang kita tabur. Orang Kristen yang menaati hikmat Allah akan menabur kebenaran, damai dan bukan dosa serta kekacauan. Kehidupan yang kita jalani memungkinkan Tuhan untuk memberi kebenaran dan damai dalam kehidupan orang lain. Berbahagialah orang yang mendapat hikmat dari Allah. Orang yang memperoleh kepandaian, karena keuntungannya melebihi keuntungan perak, dan hasilnya melebihi emas (Ams 3:13-14)

Diskusi:
  1. Kita sering diperhadapkan dalam kesulitan di tengah keluarga, apalagi akhir-akhir ini, harga kebutuhan selalu melonjak naik. Sebagai seorang ibu rumah tangga/wanita apa yang dapat kita lakukan? Bagaimana kita mengatasi segala kesulitan kita?
  2. Di tengah-tengah keluarga kita pasti kita mengalami berbagai macam persoalan hidup bukan? Barangkali kita mengalami kebingungan untuk menghadapinya. Keadaan yang tidak stabil dalam rumah tangga memungkinkan kita tidak ada ketenangan, inilah hikmat duniawi yang menghasilkan kekacauan (bnd. Ams 31:10). Apa yang harus kita lakukan di tengah-tengah keluarga kita supaya kita beroleh hikmat Allah?

Baca Selengkapnya.....

PA

Sebuah Pertobatan yang benar
(Amos 4:1-5)


Pendahuluan
Amos bernubuat kepada kerajaan utara pada pertengahan abad ke-8 sM, bangsa itu secara lahiriah berada di puncak perluasan wilayah, stabilitas politik dan kemakmuran nasional, tetapi secara batiniah sudah bobrok. Kemunafikan dan penyembahan berhala sudah merata, masyarakat hidup mewah secara berlebihan, kebejatan merajalela, sistim peradilan rusak dan penindasan orang miskin merupakan kebiasaan umum.

Dalam rangka mengikuti panggilan Allah, Amos pergi ke Betel, tempat tinggal raja Yerobeam II dan pusat agama yang dibanjiri para penyembah. Di sanalah Amos dengan berani memberitakan berita keadilan, kebenaran dan hukuman illahi karena dosa kepada umat yang tidak mau mendengarkan apa yang dikatakan Tuhan kepada mereka.

Amos dengan tidak gentar langsung menemui orang yang sedang melakukan ibadah di Betel. Di sana Amos juga bertemu dengan para wanita kalangan atas atau isteri-isteri kaum bangsawan dan orang-orang kaya. Nabi Amos mencela gaya hidup para nyonya yang bertentangan dengan norma-norma agama. Amos menuduh perempuan-perempuan Samaria khususnya dan memberitahukan hukuman yang akan datang sebagai akibat dari perbuatan mereka itu.

Penjelasan
Perempuan-Perempuan yang Mabuk kemewahan
Nabi Amos di sini menyapa para kaum perempuan itu dengan sebutan lembu Basan. Daerah Basan terdapat di sebelah timur Danau Galilea, daerah yang sangat subur dan terkenal oleh karena tumbuh-tumbuhannya yang lebat dan berlimpah-limpah dan ternaknya yang gemuk-gemuk dan bagus. Para perempuan Samaria diibaratkan demikian: bentuknya yang indah dan bagus karena cukup makan seperti lembu-lembu Basan yang termasyhur itu!

Bahasa yang dipakai Amos ini adalah kasar, karena mengibaratkan manusia sama dengan binatang. Namun semuanya itu adalah akibat dari perbuatan mereka. Perbuatan mereka yaitu, membuat suami mereka atau Amos menyebut “tuan-tuan mereka” menjadi pencoleng dan menjadi pelayan mereka untuk memuaskan nafsu bejat mereka. Mereka memberi perintah kepada suaminya: “Ayo, berusahalah supaya aku jangan kekurangan apa-apa!”. Seperti lembuh melenguh minta air, demikianlah mereka mengelu minta anggur: “bawalah ke mari (semuanya yang perlu), supaya kita minum-minum!” Mereka mau hidup dengan mewah, mau makan minum dengan kenyang, dan berfoya-foya, dan tentu saja tidak mau ketinggalan dari tetangga dan kenalan dalam hal pakaian, perhiasan dan lain-lain!. Dalam jaman Amos pun semuanya itu mendorong para suami-suami mereka untuk melakukan korupsi dan pelbagai perbuatan gelap. Sebab itu bukan hanya kaum laki-laki saja “yang memeras orang lemah, yang menginjak orang miskin!” para kaum perempuan pun terlibat dalam praktek kejahatan itu.

Hukuman atas Perempuan-Perempuan itu
Perbuatan para perempuan itu akhirnya akan mendapat balasan yang setimpal, Allah tidak tinggal diam atas perbuatan mereka. Allah yang Maha Kudus tidak membiarkan kekudusan ibadah itu dipenuhi dengan kepura-puraan atau kemunafikan. Allah bahkan akan mempertaruhkan kekudusannya untuk menghukuman para perempuan zalim itu.

Hukuman itu sendiri diibaratkan sebagaimana kebiasaan orang Asyur menggiring para tawanannya dengan tali pada kait di hidung mereka ( ibarat kerbau dicucuk hidungnya) sehingga meraka tidak sanggup untuk melepaskan dirinya lagi, bahkan untuk merontapun akan merasakan yang luar biasa (band. 2 Raja 19:28). Jadi akan datang masanya “bahwa kamu diangkat dengan kait dan yang tinggal diantara kamu dengan kail ikan.” Kail ikan juga mengambarkan kepada sebuah kaitan yang mempunyai pengait pula yang membuat ikan tidak gampang terlepas dari kaitan dimulutnya (bibir atau hidungnya).

Nabi Amos di sini juga menyebut dengan : “dan yang tinggal di antara kamu” hal itu menunjuk kepada orang yang tingal bersama dengan mereka, yaitu anak-anak dan keluarga mereka. Orang-orang itu akan ikut mengalami imbas dari perbuatan mereka, sehingga ikut serta mengalami penghukuman.

Dalam ayat tiga beberapa penafsir mau membaca sambungan dari kiasan tentang “lembu-lembu” itu: di tempat kata “belahan tembok” itu mungkin terdapat suatu kata yang mirip dengan itu, tetapi yang berarti “kandang” (lihat Hab. 3:17). Jadi: “Kamu, lembu-lembu Basan, akan keluar dari kandangmu….” Tetepi menurut terjemahan yang lazim, ayat 3 itu menggambarkan keruntuhan suatu kota yang tembok-temboknya telah rusak oleh kegiatan peperangan. “Melalui belahan tembok” itu kaum perempuan akan diangkut juga sebagai tawanan “masing-masing lurus ke depan”, yaitu satu demi satu berturut-turut, sehingga menjadi barisan yang panjang, yang berjalan maju ke jurusan yang sama. Kemana? Menurut bahasa Ibrani: “Ke Haharmon” tetapi ungkapan ini tidak terjelaskan. Barangkali dapat dibaca seperti terjemahan baru : “Ke arah Hermon” (=gunung Hermon). Jadi kea rah utara, yakni tempat malapetaka, tempat datangnya bahaya, baik untuk Israel (Asyur) maupun Yehuda (Babel; band. Yer.1:13-14).

Ibadah yang Penuh Kepura-puraan
Amos menunjukkan satu persatu segala “perbuatan suci” yang dilakukan oleh peziarah-peziarah di tempat-tempat suci” itu. Mereka mempersembahkan “korban sembelihan …pada waktu pagi”. “Korban sembelihan” itu adalah “korban persekutuan”, yaitu korban dalam bentuk selamatan atau perjamuan yang menciptakan persekutuan, baik di antara hadirin, maupun antara para hadirin dengan Allah yang dianggap hadir di sana sebagai “Tamu Agung”. Juga “persembahan persepuluhan” yang diberikan kepada bait suci dan imam-imamnya, disebutkan di sini di antara korban-korban persembahan kepada Allah. Justru berkenaan dengan Betel terdapat suatu cerita kuno tentang persembahan persepuluhan (band. Kej.28:22). Sangat boleh jadi upacara ini mendapat perhatian istimewa di Betel; agaknya orang melakukan persembahan tersebut “pada hari yang ketiga” sesudah tiba di kota itu.

Dengan menggambarkan kesibukan keagamaan di Betel itu maka Amos meneruskan: “Bakarlah korban syukur dari roti yang beragi” (atau menurut Im. 7:13) ”dan maklumkanlah persembahan-persembahan sukarela; siarkanlah itu!” atau “maklumkanlah dengan suara nyaring persembahan-persembahan sukarela”, yaitu untuk mengundang banyak orang untuk menghadiri selamatanmu itu.

Ringkasnya: lakukan sajalah dengan rajin kewajiban keagamaanmu dan segala apa yang kamu pandang termasuk dalam adat-istiadat keagamaanmu! “sebab bukankah yang demikian yang kamu sukai, hati orang Israel?”
Ungkapan Amos ini adalah merupakan sindiran kepada ibadah palsu. Kelihatannya mereka telah melakukan ibadah sebagaimana telah ditentukan oleh Musa. Sepertinya mereka telah mengabdi kepada Allah, pada hal sesungghnya mereka sekali-kali bukanlah mengindahkan kebenaran dan keadilan terhadap saudara mereka yang miskin dan lemah! Itulah yang pertama-tama yang ditekankan oleh Amos: dia menentang “keberagamaan” dan “kesalehan” yang tidak menghasilkan apa-apa dalam praktek hidup sehari-hari.

Sebab itu seluruh “keberagamaan” orang Israel itu adalah bersifat dusta dan bohong (band. 2:4). Jadi arti dari ayat-ayat ini dapat disimpulkan dengan apa yang ditulis oleh Yohanes tentang kesatuan antara kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama manusia: “Jika seorang berkata: “Aku mengasihi Allah”, dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barang siapa tidak mengasihisi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya. Dan perintah ini juga kita terima dari Dia: Barang siapa mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi saudaranya” (1 Yoh. 4:20-21). Senada dengan hal itu Amos mengatakan dalam pasal 5:4 “Sebab beginilah firman TUHAN kepada kaum Israel: "Carilah Aku, maka kamu akan hidup!” dan dalam pasal 5:14-15a dikatakan: “Carilah yang baik dan jangan yang jahat, supaya kamu hidup; dengan demikian TUHAN, Allah semesta alam, akan menyertai kamu, seperti yang kamu katakan. Bencilah yang jahat dan cintailah yang baik; dan tegakkanlah keadilan di pintu gerbang”.

Penutup
Menurut Yakobus “Ibadah yang murni dan yang tak bercacat di hadapan Allah, Bapa kita, ialah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka, dan menjaga supaya dirinya sendiri tidak dicemarkan oleh dunia. (Yak.1:27). Dan Amos sendiri mengatakan: “Bencilah yang jahat dan cintailah yang baik; dan tegakkanlah keadilan di pintu gerbang.” Biarlah oleh kerajinan kita dalam beribadah mendorong kita untuk semakin berusaha melakukan kebaikan-kebaikan, solider terhadap orang-orang menderita. Ibu-ibu yang rajin mengikuti persekutuan di gereja, misalnya Marari Kamis atau punguan Parompuan, tidak lagi “doyan ngerumpi” melainkan doyan membicarakan firman Tuhan dan firman Tuhan itu mendorong untuk menunjukkan perilaku hidup yang disukai oleh Tuhan.

Alangkah bahagianya keluarga yang mampu mensyukuri apa yang ada, bukan dengan hidup berfoya-foya. Marilah dengan bijak menata dan mengelola rejeki yang Tuhan karuniakan dalam keluarga. Mengelola hasil kerja keluarga atau suami dengan bijak sesuai dengan kebutuhan dan tidak lupa untuk menyisihkan sebagian sebagai persembahan untuk Tuhan. Isteri yang baik mampu menata rumahnya menjadi istana yang penuh kebahagiaan dan yang berkenaan kepada Allah, dialah isteri yang lebih mahal dari permata sekalipun (baca Amsal 31).

Baca Selengkapnya.....

PA

Mencari Keadilan, perdamaian dan Keutuhan Ciptaan.
(Yesaya 65:21-25)

1. Pendahuluan

Kitab Trito Yesaya (Yesaya III: pasal 56-66) adalah kitab yang berbicara tentang orang Yehuda sesudah mereka kembali dari pembuangan Babel. Setelah mereka kembali dari Babel, masih ditemukan penyimpangan-penyimpangan yang mereka lakukan. Misalnya, kesalahan para pemimpin bangsa itu (56:9), Sinkritisme/ kepercayaan terhadap banyak illah (57:3, 65:1 dst, 66:3), motivasi pembangunan rumah ibadah yang berbeda (66:1). Optimisme yang mereka miliki ketika mereka di pembuangan (sebagaimana ditunjukkan Deutro Yesaya) tidak ditemukan di Yerusalem setelah mereka pulang. Namun yang mereka temukan adalah adanya ketidak perdulian antara seorang terhadap sesama, mereka hidup dalam kekelaman. Namun karena kasih Allah terhadap umatNya. Ia tetap memberi nasehat bagi umatNya agar mereka hidup setia kepada Allah. Melakukan keadilan dan kebenaran sesuai dengan kehendak Allah. Sehingga mereka memperoleh pengharapan akan keselamatan.

2. Keterangan
Bagaimana bentuk keselamatan yang akan diberikan Allah kepada UmatNya? Itulah yang hendak dijelaskan dalam perikop (nas) ini. Hal itu perlu bagi mereka agar mereka mendapat kekuatan dan semangat dalam persekutuan mereka dengan Tuhan. Karena itu pada ayat sebelum perikop ini telah dijelaskan beberapa hal, seperti; Penyembuhan dari penyakit-penyakit lama (ay. 17b), memberikan kegembiraan-kegembiraan (ay. 18-19, dan Memberikan hidup (ay. 20). Ini adalah merupakan satu kesatuan dengan ayat-ayat berikut, yang boleh disebut sebagi pengantar.
a. Memberikan keamanan (ay. 21-23a)
b. Membangun persekutuan dengan Allah (ay.23b-24)
c. Kerukunan di antara makhluk-makhluk. (ay.25)

a. Memberikan keamanan (ay. 21-23a).
Tahun 587 SM, rumah-rumah mereka dilunta-lantangkan penguasa Babel, kini kekuasaan itu tidak berdaya lagi. Ketika mereka di Babel mereka diperhamba di negeri orang, mereka tidak dapat mencicipi kesejahtraan karena mereka harus bekerja untuk penguasa. Namun sekarang Allah memberikan janji berkat yang akan diterima mereka. Mereka akan mendirikan rumah-rumah dan mendiaminya juga.

Bila mereka dahulu dipekerjakan untuk mengawasi, menjaga dan merawat kebun-kebun anggur tuan-tuan tanah yang berkuasa atas mereka, sehingga mereka hanya dapat melihat buah-buah tanaman yang indah saja tetapi tidak untuk mereka makan. Sekarang Allah menjanjikan kesejahtraan buat mereka dengan mengusahai kebun-kebun mereka dan memakan buahnya dengan bebas. Karena mereka akan menanami kebun-kebun anggur dan memakan buahnya juga. Allah tidak akan membiarkan keadilan dan kebenaran dirusak. Allah menegaskan lagi bahwa mereka tidak akan menanam sesuatu supaya orang lain memakan buahnya. Orang-orang pilihanku akan menikmati pekerjaan tangan mereka.

Kepandaian mereka membangun rumah yang indah dan menawan yang diperuntukkan bagi penguasa di Babel, kini mereka membangun rumah untuk didiami sendiri. Untuk itu Allah berfirman “Mereka tidak akan mendirikan sesuatu supaya orang lain mendiaminya”.

Dengan demikian keadilan dan kesejahtraan akan didapatkan oleh Umat Tuhan. Mereka akan mendapat umur yang panjang karena mereka bekerja dengan tidak bersusah-susah karena mereka memimpin diri sendiri dan bekerja untuk mereka sendiri artinya tidak untuk penguasa penjajah lagi. Untuk itu Allah berfirman “Umur umatku akan sepanjang umur pohon. Mereka tidak akan bersusah-susah dengan percuma”. Sehingga kekayaan Allah itu dinikmati oleh seluruh manusia. Dengan menjamin masa depan manusia itu sampai kepada anak cucunya. Allah berfirman; “tidak akan melahirkan anak yang akan mati mendadak”.

b. Membangun persekutuan dengan Allah (ay.23b-24)
Pemahaman yang mendasar yang diwarisi Umat Tuhan secara turun temurun adalah; bahwa mereka tidak sanggup berbuat apa-apa bila Tuhan (Tabut Tuhan) tidak berada ditengah-tengah mereka. Artinya, hanya dengan kehadiran Allah saja ditengah-tengah mereka maka kemenangan dan keselamatan ada di tengah-tengah mereka. Kini Allah menjanjikan kasih karunia; memberikan lebih dari apa yang diminta, mendengarkan seruan walaupun belum memanggilNya. Firman Tuhan berkata “Sebelum mereka memanggil Aku sudah menjawabnya”. Allah sendiri yang berinisiatif membangun persekutuan yang baik dengan UmatNya. Sebab Dia adalah Allah yang bukan pilihan manusia tetapi Allah yang menyatakan diriNya kepada manusia. Untuk itu Allah mempertegas dengan; “Ketika mereka sedang berbicara aku sudah mendengarkannya. Sebab, mereka itu keturunan orang-orang yang diberkati Tuhan. Anak cucu mereka ada beserta mereka”.

c. Kerukunan di antara makhluk-makhluk. (ay.25).
Kedamaian dan kesejahtraan telah dijanjikan untuk manusia. Kedamaian dan kesejahtraan itu juga akan kembali terpelihara oleh manusia sebagai “mitra” Allah untuk merawat dan menjaga serta melestarikan ciptaan Allah. Manusia yang olehnya diberi tanggungjwab itu harus mengolah alam untuk kemakmuran bersama, tanpa ada yang punah tetapi lestari di hadapan Allah. Tatanan alam yang baik akan selalu memberi hidup yang asri bagi umat manusia. Jadi bila Allah mengatakan “Serigala dan anak domba akan bersama-sama makan rumput. Singa akan makan jerami seperti lembu. Ular akan hidup dari debu. Tidak ada yang akan berbuat jahat atau yang berlaku busuk di gunug Allah”. Itu berarti bahwa segala sesuatunya diatur oleh Allah untuk UmatNya yang dipilih dan dikasihinya. Manusia dapat menikmati ciptaan itu dalam tanggungjawab dan suka cita yang dari Tuhan.

3. Bahan Diskusi.
a. Bagaimanakah tanggapan kita melihat dunia yang selalu menaruh permusuhan terhadap sesama? Adakah guna permusuh-musuhan itu untuk kehidupan manusia?
b. Apakah kita masih merasakan bahwa persekutuan yang baik bersama Allah selalu membangun kedamaian di dalam hidup sehari-hari dalam masyarakat?
c. Bagaimanakah usaha manusia untuk mempertahankan kedamaian di antara sesama ciptaan, sehingga tatanan kehidupan dapat berjalan dengan baik? Bagaimana pendapat kita bagi mereka yang tidak perduli kepada alam sekitar? Misalnya pembalakan dan penebangan hutan.


Baca Selengkapnya.....