Tampilkan postingan dengan label Profil. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Profil. Tampilkan semua postingan
18 Maret 2009
HKBP Simarhompa hidupkan pelayanan diakonia
Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Simarhompa terletak 2 Km di bagian Selatan Kecamatan Sipahutar Kabupaten Tapanuli Utara. Gereja ini memiliki warga jemaat sebanyak 85 Kepala Keluarga (KK) kurang lebih 750 jiwa. Bagunan gereja tampak indah baik bagian luar maupun dalam yang setiap Minggunya dipergunakan untuk tempat kebaktian. Di dalam gereja terdapat deretan kursi panjang yang terbuat dari kayu jati sebagai hasil sumbangan dari warga jemaat. Gereja ini dilayani oleh sepuluh orang Majelis (Parhalado) dipimpin oleh St. Polmer Panjaitan yang sudah dua periode menjadi Voorganger atau Uluan ni Huria (1999-2009).
Kehidupan waga jemaat rata-rata sebagai petani, PNS dan pemilik sebidang tanah yang sangat luas. Dengan ditanami nenas, kopi, jangung dan tumbuhan palawija warga jemaat mempu membiayai kehidupan bahkan menyekolahkan anak mulai dari tingkat SD hingga Fakultas. Termasuk memberikan persembahan dan kewajiban ke gereja. Dari sekian warga jemaat yang tinggal di perantauan sangat banyak memberikan perhatiannya membangun bonapasogit dan HKBP Simarhompa sendiri. Di antaranya Jenderal (Purn) Sintong Panjaitan, Kolonel Tampubolon dan pengusaha/swastawan sakses R. Simanjuntak dan marga-marga lainnya sebagai “pamoruon”. Kebetulan marga-marga di desa Simarhompa didominasi oleh marga Panjaitan, Simanjuntak dan Tampubolon.Dari marga tersebut sudah ada yang menjadi pelayan Tuhan, misalnya Pdt. Salomo Panjaitan, Pdt. Marudur Tampubolon dan beberapa guru huria lainnya.
HKBP Simarhompa Ressort Sipahutar Distrik II Silindung ini memiliki warga jemaat dan Parhalado yang seia sekata. Hampir tidak pernah terjadi perselisihan yang mengarah kepada konflik. Semuanya itu karena kehidupan masyarakat dan warga gereja dilandasi oleh Firman Tuhan. Kegigihan Parhalado melakukan pelayanan, terutama Pastoral Kounseling (perkunjungan keluarga) sangat menentukan perjalanan gereja ini. Perkunjungan keluarga ini diprioritaskan kepada para warga jemaat yang tidak hadir ke gereja karena sakit atau sedang menghadapi masalah.
Buktinya pada hari Minggu 15 Maret 2009 Minggu Okuli), Parhalado HKBP Simarhompa mengadakan Kunjungan Pastoral kepada warga jemaat yang saat itu sedang sakit di rumahnya. Salah seorang Majelis memberitahukan di ruang konsistori (bilut parhobasan) bahwa di lingkungan pelayanannya ada warga jemaat yang sakit. Dengan tidak mengulur waktu semua Parhalado sepakat mengadakan kunjungan pastoral seusai kebaktian Minggu. Acara dalam perkunjungan ini dilakukan dengan bernyanyi, berdoa, mandok hata (kata-kata penghiburan), renungan singkat dan doa penutup. Tidak lupa juga parhalado memberikan sedikit uang “sosial’ sebagai tanda kasih dan kepedulian.
Terlihat kegembiraan keluarga terutama si sakit ketika menerima kedatangan Perhalado dalam melaksanakan pelayanan Diakonia ini. Pada acara “mangampu” keluarga menyampaikan ucapan terimaksih kepada HKBP Simarhompa melalui Parhalado-nya yang sungguh-sungguh dan setia melayani warganya.
Memang sejak lama HKBP Simarhompa telah melakukan pelayanan Pastoral kepada warganya untuk menghidupkan pelayanan Diakonia. Melalui itulah warga jemaat ini sangat mencintai gereja HKBP baik di Indonesia maupun di luar negeri. Demikian disampaikan Pdt. Hotben Pasaribu (Pendeta Ressort) alumni Seminarium Sipoholon.
Baca Selengkapnya.....
Label:
Profil
08 Februari 2009
Profil
HKBP Peatolong gunakan hari Minggu sebagai hari perhentian
Baca Selengkapnya.....
HKBP Peatolong Ressort Hutabarat Distrik II Silindung terletak kira-kira 15 KM dari ibukota Kabupaten Tapanuli Utara di sebelah Utara daerah Salib Kasih. Warga jemaat berjumlah 45 KK dan dilayani 6 orang majelis (Parhalado).
Setiap hari minggu mereka mengadakan perhentian dari segala pekerjaan. Mengadakan kebaktian guna menaikkan puji syukur kepada Tuhan atas perlindungan-Nya kepada mereka. Sekalipun desa Peatolong terletak di sebuah lembah daerah Salib Kasih yang jauh dari pusat kota tidak ketinggalan dalam hal kemajuan dan perkembangan informasi komunikasi. Mereka cepat mendapat berita baik melalui media elektronik dan surat kabar.
Tidak jarang dari warga jemaat sudah memiliki HP untuk berkomunikasi jarak jauh. Anak rantau dari desa inipun sudah tersebar hampir seluruh Indonesia dengan propesi yang berbeda-beda. Sebagai pegawai swasta dan juga sebagai pegawai pemerintahan. Demikian disampaikan salah seorang parhalado sambil mengungkapkan kebanggaannya tinggal di daerah ini. Sayang jalan aspal ke desa ini belum selesai masih setengah jalan. Mereka mengharapkan Bupati yang baru akan menindaklanjuti pembangunan ini. Sehingga penduduk setempat dan dari luar tidak kewalahan mengunjungi desa ini.
Kebenaran berita tersebut terlihat secara jelas pada Minggu 8 Pebruari 2009 ketika kami melayani di jemaat ini.
Jemaat yang rata-rata hidup dari pertanian ini dipimpin oleh St. P. Hutabarat menggantikan St. L.Hutabarat yang sudah pensiun. Orangtua St. L. Hutabarat adalah pemilik pertapakan gereja berukuran 100x150 M dan telah menyerahkannya kepada HKBP pusat.
Pada saat kebaktian berlangsung seluruh warga jemaat tampak sukacita mengikuti ibadah dari awal hingga akhir sekaligus menyanyikan lagu puji-pujian. Tidak ketinggalan punguan Ama dan punguan NHKBP berpartisipasi dalam kebaktian dengan menyanyikan koor: "O Tuhan, o Tuhan, sai tatap hami on, O Jesus, o Jesus parasirohai, suru ma tondim tu nasa huriam, tondi porbadia singkat ni bohim, jala pargogoi sudena naposom di sandok portibion..."
HKBP Peatolong berdiri tahun 1913 dan sudah memiliki gedung gereja semi permanen 15x8 m dan mempunyai bilut parhobasan berukuran 3x4 m. Warga jemaat hidup dari hasil pertanian seperti kopi, kemenyan, ubi dan tumbuhan palawija.
Bagi warga jemaat HKBP Peatolong, hari Minggulah hari peristirahatan dari setiap kegiatan yang dilakukan dalam satu Minggu itu. Sehingga satu orangpun dari warga jemaat tidak ada yang absen dalam kebaktian kecuali karena sakit. Hal tersebut diakui oleh Pdt. Parulian Silitonga, STh Pendeta HKBP Ressort Hutabarat ketika berkunjung ke huta Seminarium Sipoholon di sela-sela kegiatan pelayanannya.
HKBP Peatolong pantas menjadi tiruan bagi jemaat lain, memanfaatkan hari Minggu sebagai hari perhentian dari kesibukan setiap hari sebagaimana dikatakan dalam Titah keempat. Ingat dan kuduskalah hari Minggu!
Tidak jarang dari warga jemaat sudah memiliki HP untuk berkomunikasi jarak jauh. Anak rantau dari desa inipun sudah tersebar hampir seluruh Indonesia dengan propesi yang berbeda-beda. Sebagai pegawai swasta dan juga sebagai pegawai pemerintahan. Demikian disampaikan salah seorang parhalado sambil mengungkapkan kebanggaannya tinggal di daerah ini. Sayang jalan aspal ke desa ini belum selesai masih setengah jalan. Mereka mengharapkan Bupati yang baru akan menindaklanjuti pembangunan ini. Sehingga penduduk setempat dan dari luar tidak kewalahan mengunjungi desa ini.
Kebenaran berita tersebut terlihat secara jelas pada Minggu 8 Pebruari 2009 ketika kami melayani di jemaat ini.
Jemaat yang rata-rata hidup dari pertanian ini dipimpin oleh St. P. Hutabarat menggantikan St. L.Hutabarat yang sudah pensiun. Orangtua St. L. Hutabarat adalah pemilik pertapakan gereja berukuran 100x150 M dan telah menyerahkannya kepada HKBP pusat.
Pada saat kebaktian berlangsung seluruh warga jemaat tampak sukacita mengikuti ibadah dari awal hingga akhir sekaligus menyanyikan lagu puji-pujian. Tidak ketinggalan punguan Ama dan punguan NHKBP berpartisipasi dalam kebaktian dengan menyanyikan koor: "O Tuhan, o Tuhan, sai tatap hami on, O Jesus, o Jesus parasirohai, suru ma tondim tu nasa huriam, tondi porbadia singkat ni bohim, jala pargogoi sudena naposom di sandok portibion..."
HKBP Peatolong berdiri tahun 1913 dan sudah memiliki gedung gereja semi permanen 15x8 m dan mempunyai bilut parhobasan berukuran 3x4 m. Warga jemaat hidup dari hasil pertanian seperti kopi, kemenyan, ubi dan tumbuhan palawija.
Bagi warga jemaat HKBP Peatolong, hari Minggulah hari peristirahatan dari setiap kegiatan yang dilakukan dalam satu Minggu itu. Sehingga satu orangpun dari warga jemaat tidak ada yang absen dalam kebaktian kecuali karena sakit. Hal tersebut diakui oleh Pdt. Parulian Silitonga, STh Pendeta HKBP Ressort Hutabarat ketika berkunjung ke huta Seminarium Sipoholon di sela-sela kegiatan pelayanannya.
HKBP Peatolong pantas menjadi tiruan bagi jemaat lain, memanfaatkan hari Minggu sebagai hari perhentian dari kesibukan setiap hari sebagaimana dikatakan dalam Titah keempat. Ingat dan kuduskalah hari Minggu!
Label:
Profil
Langganan:
Postingan (Atom)

